Bukan mudah mendapat hidayah Tuhan. Ramai orang yang berusaha, tapi akhirnya tak dapat apa. Tapi kena percaya Tuhan itu Maha Adil. Kalau usaha setakat mahu ikut-ikut orang takkanlah sekelip mata saja hidayah itu menjelma.
Hidayah sendiri milik Tuhan. Aku dan engkau hanya berusaha, kawan. Tak siapa tahu siapa yang kekal dalam hidayahNya. Atau mungkin kita berdua sebenarnya sama-sama belum masuk ke kandang hidayah itu. Sebab semuanya Tuhan lebih tahu.
Bukan harganya sekeping emas. Bukan juga sebiji bumi. Sebab hidayah itu melangkaui batas semesta, bila roh aku dan engkau bersemadi dalam keredaanNya. Tapi kenapa susah sangat untuk engkau sedar? Hidayah itu akan pergi, kawan.
Aku hanya mampu bercerita dan berbicara. Tentang Tuhan Yang Maha Memberi Hidayah. Tentang pintu taubatNya yang masih terbuka. Kalau engkau masih tuli, haruskah aku memaksa? Atau menunggu bicara Tuhan di medan Mahsyar nanti.
Ya. Aku wajib melaksanakannya. Menyampaikan apa yang engkau tidak tahu. Atau sebenarnya engkau telah tahu, tapi sebab hatimu sudah legam maka yang benar-benar semuanya engkau dustakan. Atau hatimu telah buta?
Kawan, aku bukan manusia sempurna sebab aku juga hamba. Sama sahaja seperti engkau. Yang masih berjalan di atas duniaNya. Tapi aku mahu engkau tahu yang dunia ini bukan selama-lamanya menjadi tempat tinggal kita. Kita ada akhirat.
Terdesak sangatkah aku kalau hanya ingin melihat engkau berubah? Kalau pun bukan aku, biarlah orang lain yang membawa engkau kepada Tuhan. Kalau sebab aku engkau makin jauh dengan Tuhan, maka khabarkanlah. Supaya aku tahu aku tidak lagi mampu memimpin engkau. Tapi selagi nafasku masih ada selagi itu aku akan cuba. Dan engkau, kawan, sedarlah yang aku ini juga manusia. Punya resah dan takut. Tidak sempurna. Sama sahaja seperti engkau.
London.
Sunday, 22 November 2009
SELAGI MATA TERBUKA
Salahkah aku Ya Allah
Kalau hati ini tetap keras
Dan matinya tiada dirasa
Salahkah aku Ya Allah
Kalau jiwa ini masih kotor
Oleh segenap kejahilan
Salahkah aku Ya Allah
Kalau telah puas meminta
Dan Engkau tidak mempedulikan
Salahkah aku Ya Allah
Kalau memohon sedikit ruang
Dari luasnya kasihMu
Dan Engkau masih tidak memberi
Selagi mata ini terbuka
Dan jiwa ini punya hati
Takkan mulut ini berhenti
Dari terus merayu
Dan air mata
Takkan menjadi kering
Dari terus menangisi
London.
Kalau hati ini tetap keras
Dan matinya tiada dirasa
Salahkah aku Ya Allah
Kalau jiwa ini masih kotor
Oleh segenap kejahilan
Salahkah aku Ya Allah
Kalau telah puas meminta
Dan Engkau tidak mempedulikan
Salahkah aku Ya Allah
Kalau memohon sedikit ruang
Dari luasnya kasihMu
Dan Engkau masih tidak memberi
Selagi mata ini terbuka
Dan jiwa ini punya hati
Takkan mulut ini berhenti
Dari terus merayu
Dan air mata
Takkan menjadi kering
Dari terus menangisi
London.
Thursday, 19 November 2009
MENDUAKAN TUHAN
Telah berlalulah saat manisnya cinta
PadaNya Tuhan telah kita rebahkan doa
Untuk apa bersedih saat itu
Kalau di hati yakinnya ada
Senja yang satu ini
Menjadi saksi peradaban hati berbolak
Oleh derasnya gelombang syaitan
Yang meruntuhkan tugu-tugu keimanan
Berpuinglah segenap lubang syurga
Oleh marak kilau neraka
Seperti juga hari-hari semalam
Yang telah meleraikan nafsu dari bawahan
Lantas diangkat menjadi sembahan
Untuk apa lagi Tuhan mengasihani
Kalau sendiri yang berkabung amal
Tuhan sedang melihat
Entah renungnya tajam atau sinis
Memerhati gerak geri hati yang mati
Oleh dustanya pada janji yang dimahar
Sungguh lama Tuhan itu diduakan
Dengan akal yang mewaraskan kemaksiatan
Pada jiwa hamba yang terlupakan
Dan dunia telah menjadi hambatan
Walau martabatnya pembela umat
London.
PadaNya Tuhan telah kita rebahkan doa
Untuk apa bersedih saat itu
Kalau di hati yakinnya ada
Senja yang satu ini
Menjadi saksi peradaban hati berbolak
Oleh derasnya gelombang syaitan
Yang meruntuhkan tugu-tugu keimanan
Berpuinglah segenap lubang syurga
Oleh marak kilau neraka
Seperti juga hari-hari semalam
Yang telah meleraikan nafsu dari bawahan
Lantas diangkat menjadi sembahan
Untuk apa lagi Tuhan mengasihani
Kalau sendiri yang berkabung amal
Tuhan sedang melihat
Entah renungnya tajam atau sinis
Memerhati gerak geri hati yang mati
Oleh dustanya pada janji yang dimahar
Sungguh lama Tuhan itu diduakan
Dengan akal yang mewaraskan kemaksiatan
Pada jiwa hamba yang terlupakan
Dan dunia telah menjadi hambatan
Walau martabatnya pembela umat
London.
Friday, 13 November 2009
UMAR
Aku ingin jadi seperti dia
Yang ketika Islamnya
Iblis-iblis enggan merapati
Matanya telah terbeliak
Ketika melihat sucinya kalam Tuhan
Dan wajahnya yang bengis
Siapa sangka hatinya mampu dilembuti?
Ketika rahsianya misi rasul
Dia bersuara di tengah-tengah ketakutan
Membuang segala kegelisahan
Merencana sebuah misi penuh debaran
Merejam semangat para kuffar
Dia adalah Umar
Yang takutnya hanya pada Tuhan
Pada manusia yang tak punya kuasa
Kilau pedangnya menjadi biasa
Pada sebuah janji yang terpatri
La Ilaha Ilallah
Menjadi saksi
Setiap titis darahnya
Yang ketika Islamnya
Iblis-iblis enggan merapati
Matanya telah terbeliak
Ketika melihat sucinya kalam Tuhan
Dan wajahnya yang bengis
Siapa sangka hatinya mampu dilembuti?
Ketika rahsianya misi rasul
Dia bersuara di tengah-tengah ketakutan
Membuang segala kegelisahan
Merencana sebuah misi penuh debaran
Merejam semangat para kuffar
Dia adalah Umar
Yang takutnya hanya pada Tuhan
Pada manusia yang tak punya kuasa
Kilau pedangnya menjadi biasa
Pada sebuah janji yang terpatri
La Ilaha Ilallah
Menjadi saksi
Setiap titis darahnya
Tuesday, 10 November 2009
MANUSIA ITU
Seorang manusia yang hidup
di bawah resah di atasnya gelisah
Menanti segenggam matahari
menjadi pantai yang menyinggahi laut
Sebatang pohon kekusutan
yang tumbuh di celahan kerikil
adalah subur
pada waktu hatinya mati
Manusia itu melihat
manusia-manusia berkejaran
mencari di mana bulan akan mendarat
pada gemersiknya takbir Zuhur
Bila pun ia menyentuh tanah; basah
di situlah pintu-pintu syurga terbuka
untuk manusia-manusia
Sejuta malam adalah satu saat
pada rehatnya manusia dari kemilau ombak
dan esok akan bertandang lagi
membawa dua matahari bersama
Dan manusia itu
sekadar menadah
Bila saja raungnya terhenti
ke muka aku tangannya meraup
London.
di bawah resah di atasnya gelisah
Menanti segenggam matahari
menjadi pantai yang menyinggahi laut
Sebatang pohon kekusutan
yang tumbuh di celahan kerikil
adalah subur
pada waktu hatinya mati
Manusia itu melihat
manusia-manusia berkejaran
mencari di mana bulan akan mendarat
pada gemersiknya takbir Zuhur
Bila pun ia menyentuh tanah; basah
di situlah pintu-pintu syurga terbuka
untuk manusia-manusia
Sejuta malam adalah satu saat
pada rehatnya manusia dari kemilau ombak
dan esok akan bertandang lagi
membawa dua matahari bersama
Dan manusia itu
sekadar menadah
Bila saja raungnya terhenti
ke muka aku tangannya meraup
London.
Subscribe to:
Posts (Atom)