Salahkah aku Ya Allah
Kalau hati ini tetap keras
Dan matinya tiada dirasa
Salahkah aku Ya Allah
Kalau jiwa ini masih kotor
Oleh segenap kejahilan
Salahkah aku Ya Allah
Kalau telah puas meminta
Dan Engkau tidak mempedulikan
Salahkah aku Ya Allah
Kalau memohon sedikit ruang
Dari luasnya kasihMu
Dan Engkau masih tidak memberi
Selagi mata ini terbuka
Dan jiwa ini punya hati
Takkan mulut ini berhenti
Dari terus merayu
Dan air mata
Takkan menjadi kering
Dari terus menangisi
London.
Sunday, 22 November 2009
Thursday, 19 November 2009
MENDUAKAN TUHAN
Telah berlalulah saat manisnya cinta
PadaNya Tuhan telah kita rebahkan doa
Untuk apa bersedih saat itu
Kalau di hati yakinnya ada
Senja yang satu ini
Menjadi saksi peradaban hati berbolak
Oleh derasnya gelombang syaitan
Yang meruntuhkan tugu-tugu keimanan
Berpuinglah segenap lubang syurga
Oleh marak kilau neraka
Seperti juga hari-hari semalam
Yang telah meleraikan nafsu dari bawahan
Lantas diangkat menjadi sembahan
Untuk apa lagi Tuhan mengasihani
Kalau sendiri yang berkabung amal
Tuhan sedang melihat
Entah renungnya tajam atau sinis
Memerhati gerak geri hati yang mati
Oleh dustanya pada janji yang dimahar
Sungguh lama Tuhan itu diduakan
Dengan akal yang mewaraskan kemaksiatan
Pada jiwa hamba yang terlupakan
Dan dunia telah menjadi hambatan
Walau martabatnya pembela umat
London.
PadaNya Tuhan telah kita rebahkan doa
Untuk apa bersedih saat itu
Kalau di hati yakinnya ada
Senja yang satu ini
Menjadi saksi peradaban hati berbolak
Oleh derasnya gelombang syaitan
Yang meruntuhkan tugu-tugu keimanan
Berpuinglah segenap lubang syurga
Oleh marak kilau neraka
Seperti juga hari-hari semalam
Yang telah meleraikan nafsu dari bawahan
Lantas diangkat menjadi sembahan
Untuk apa lagi Tuhan mengasihani
Kalau sendiri yang berkabung amal
Tuhan sedang melihat
Entah renungnya tajam atau sinis
Memerhati gerak geri hati yang mati
Oleh dustanya pada janji yang dimahar
Sungguh lama Tuhan itu diduakan
Dengan akal yang mewaraskan kemaksiatan
Pada jiwa hamba yang terlupakan
Dan dunia telah menjadi hambatan
Walau martabatnya pembela umat
London.
Friday, 13 November 2009
UMAR
Aku ingin jadi seperti dia
Yang ketika Islamnya
Iblis-iblis enggan merapati
Matanya telah terbeliak
Ketika melihat sucinya kalam Tuhan
Dan wajahnya yang bengis
Siapa sangka hatinya mampu dilembuti?
Ketika rahsianya misi rasul
Dia bersuara di tengah-tengah ketakutan
Membuang segala kegelisahan
Merencana sebuah misi penuh debaran
Merejam semangat para kuffar
Dia adalah Umar
Yang takutnya hanya pada Tuhan
Pada manusia yang tak punya kuasa
Kilau pedangnya menjadi biasa
Pada sebuah janji yang terpatri
La Ilaha Ilallah
Menjadi saksi
Setiap titis darahnya
Yang ketika Islamnya
Iblis-iblis enggan merapati
Matanya telah terbeliak
Ketika melihat sucinya kalam Tuhan
Dan wajahnya yang bengis
Siapa sangka hatinya mampu dilembuti?
Ketika rahsianya misi rasul
Dia bersuara di tengah-tengah ketakutan
Membuang segala kegelisahan
Merencana sebuah misi penuh debaran
Merejam semangat para kuffar
Dia adalah Umar
Yang takutnya hanya pada Tuhan
Pada manusia yang tak punya kuasa
Kilau pedangnya menjadi biasa
Pada sebuah janji yang terpatri
La Ilaha Ilallah
Menjadi saksi
Setiap titis darahnya
Tuesday, 10 November 2009
MANUSIA ITU
Seorang manusia yang hidup
di bawah resah di atasnya gelisah
Menanti segenggam matahari
menjadi pantai yang menyinggahi laut
Sebatang pohon kekusutan
yang tumbuh di celahan kerikil
adalah subur
pada waktu hatinya mati
Manusia itu melihat
manusia-manusia berkejaran
mencari di mana bulan akan mendarat
pada gemersiknya takbir Zuhur
Bila pun ia menyentuh tanah; basah
di situlah pintu-pintu syurga terbuka
untuk manusia-manusia
Sejuta malam adalah satu saat
pada rehatnya manusia dari kemilau ombak
dan esok akan bertandang lagi
membawa dua matahari bersama
Dan manusia itu
sekadar menadah
Bila saja raungnya terhenti
ke muka aku tangannya meraup
London.
di bawah resah di atasnya gelisah
Menanti segenggam matahari
menjadi pantai yang menyinggahi laut
Sebatang pohon kekusutan
yang tumbuh di celahan kerikil
adalah subur
pada waktu hatinya mati
Manusia itu melihat
manusia-manusia berkejaran
mencari di mana bulan akan mendarat
pada gemersiknya takbir Zuhur
Bila pun ia menyentuh tanah; basah
di situlah pintu-pintu syurga terbuka
untuk manusia-manusia
Sejuta malam adalah satu saat
pada rehatnya manusia dari kemilau ombak
dan esok akan bertandang lagi
membawa dua matahari bersama
Dan manusia itu
sekadar menadah
Bila saja raungnya terhenti
ke muka aku tangannya meraup
London.
Saturday, 31 October 2009
SERABUT
Jiwa jadi sempit
Gelisah tentang tahun-tahun muka
Tentang hidup yang entah ke mana
Tentang hati yang berprasangka
Tentang akal yang buruk fikiran
Oh Tuhan
Aku benar-benar memerlukanMu
Sokongan dan perhatian
Hanya dariMu
Gelisah tentang tahun-tahun muka
Tentang hidup yang entah ke mana
Tentang hati yang berprasangka
Tentang akal yang buruk fikiran
Oh Tuhan
Aku benar-benar memerlukanMu
Sokongan dan perhatian
Hanya dariMu
Subscribe to:
Posts (Atom)